Dakwah Di Tengah Dunia Yang Semakin Artifisial

Oleh: Dr. Muridan, M.Ag

 

Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) semakin membuat batas antara yang nyata dan yang rekayasa kian kabur. AI kini mampu menulis, berbicara, bahkan meniru cara berpikir manusia. Bersamaan dengan itu, diskursus teori simulasi kembali ramai dibicarakan. Sebuah gagasan yang mempertanyakan apakah dunia yang kita jalani benar-benar nyata atau sekadar hasil rekayasa tingkat tinggi.

 

 

Sumber: idn.freepik.com

 

Di tengah situasi ini, dakwah Islam tidak boleh hanya menjadi penonton. Dakwah harus hadir, menyapa dan memberi arah. Sebab, kegelisahan tentang realitas, makna hidup dan masa depan manusia kini telah menjadi percakapan publik, terutama di ruang digital.

Islam sejak awal telah memberi peringatan yang jernih. Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia sebagai kesenangan yang menipu. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu,” demikian firman Allah dalam Q.S. Al-Hadid: 20. Ayat ini bukan ajakan untuk menjauhi dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak terjebak pada apa yang tampak semata.

Ketika teori simulasi mempertanyakan keaslian sebuah realitas, dakwah justru mengajak manusia kembali bertanya tentang tujuan hidup. Dalam Islam, dunia fisik maupun digital, tetaplah bersifat sementara. Maka dakwah perlu mengarahkan umat pada makna, bukan sekadar pada tampilan realitas.

Pemikir Muslim kontemporer Syed Muhammad Naquib Al-Attas sejak lama telah mengingatkan bahwa problem utama manusia modern bukan terletak pada kurangnya ilmu, melainkan pada hilangnya adab. Dalam bukunya Islam and Secularism, Al-Attas menjelaskan bahwa ketika manusia gagal menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka yang muncul adalah kekacauan makna. Ilmu berkembang, teknologi maju, tetapi arah hidup justru kabur.

Sumber: idn.freepik.com

 

Fenomena AI dan teori simulasi telah memperlihatkan dengan jelas apa yang dimaksud Al-Attas sebagai krisis adab. Teknologi diposisikan sebagai sumber kebenaran, sementara nilai dan tujuan hidup tersingkirkan. Manusia terpukau pada kecanggihan sistem, tetapi lupa bertanya untuk apa sebenarnya semua itu digunakan.

AI pada hakikatnya adalah simulasi buatan manusia. Ia kini telah mampu meniru kecerdasan, bahasa dan perilaku manusia, tetapi ia tidak memiliki iman, niat bahkan tanggung jawab moral. Al-Attas, dalam bukunya The Concept of Education in Islam telah menegaskan bahwa ilmu yang tidak dibimbing oleh adab tidak akan melahirkan kebijaksanaan, melainkan akan melahirkan  kebingungan. Pesan ini sangat relevan di tengah euforia teknologi saat ini.

Posisi dakwah di era ini seharusnya dapat mengajak umat untuk tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga beradab. Teknologi boleh dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan literasi keagamaan, tetapi tidak boleh menggantikan peran iman dan akhlak dalam membimbing kehidupan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari No. 4801). Hadits ini menegaskan bahwa manusia tetap menjadi subjek moral. Secanggih apa pun AI, tidak memikul tanggung jawab tersebut. Maka dakwah di sini perlu mengajak umat agar tidak menyerahkan keputusan moral dan spiritual sepenuhnya kepada mesin.

Diskursus teori simulasi telah membuka ruang dakwah yang reflektif. Jika dunia dianalogikan sebagai sistem, Islam mengajarkan bahwa Allah bukan bagian dari sistem itu. Allah adalah Al-Haqq, Yang Maha Benar. “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Benar,” sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Hajj: 62.

Di tengah dunia yang semakin sintetis, di mana gambar dapat dipalsukan, suara direkayasa dan informasi dimanipulasi maka dakwah hari ini dituntut untuk selalu menguatkan nilai kejujuran dan amanah. “Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur,” pesan Al-Qur’an dalam Q.S. At-Taubat: 119.

 

Sumber: idn.freepik.com

 

Pada akhirnya, dakwah di era AI adalah dakwah yang mengajak dan mengembalikan orientasi hidup manusia. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” demikian tujuan penciptaan yang ditegaskan dalam Q.S. Az Zariyat: 56.

Di tengah dunia yang terasa makin artifisial ini, dakwah dipanggil untuk menjadi penunjuk arah yakni untuk mengajak manusia kembali pada iman, adab dan kesadaran akan tujuan hidup yang sejati. Teknologi boleh berkembang semaju dan secepat mungkin, tetapi dakwahlah yang memastikan manusia tidak kehilangan akan makna dan arah kembali.