Artificial Intelligence Deepfake dan Kegelisahan Moral Netizen

 

Oleh: Dr. Muridan, M.Ag

Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu Purwokerto

 

Di dunia digital yang serba cepat, keaslian kini menjadi barang langka. Gambar bisa dimanipulasi, suara bisa disalin, bahkan wajah pun bisa dipalsukan dengan begitu meyakinkan. Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melahirkan fenomena baru bernama deepfake video atau audio hasil rekayasa algoritma yang tampak nyata meski seluruh isinya palsu.

Kehadiran teknologi ini telah memunculkan gelombang kekaguman sekaligus ketakutan baru. Di satu sisi, AI dianggap sebagai lompatan besar peradaban. Di sisi yang lain, ia menimbulkan keresahan sosial, terutama di kalangan netizen yang memandang fenomena ini bukan hanya sekadar soal teknologi, tetapi juga soal moral dan akidah.

 

(Sumber Foto: Shutterstock)

 

Teknologi yang Tak Lagi Netral

Bagi sebagian orang, teknologi dianggap netral. Namun bagi filsuf Jerman Hans Jonas, teknologi justru sarat nilai moral. Dalam bukunya The Imperative of Responsibility (1984), Jonas mengingatkan bahwa semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia terhadap akibatnya. Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan ilmu dan teknologi sebagai amanah. Manusia diberi akal bukan hanya untuk mencipta, tapi juga untuk mempertanggungjawabkan ciptaannya. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Jika AI digunakan untuk kemaslahatan, misalnya dalam pendidikan, kesehatan atau riset ilmiah, maka ia menjadi amal baik. Namun ketika AI digunakan untuk memalsukan wajah seseorang, menyebarkan fitnah, atau meniru suara ulama demi menyesatkan umat, maka teknologi itu berubah menjadi alat kemungkaran.

Dalam perspektif etika Islam, deepfake menabrak prinsip verifikasi informasi (tabayyun) yang ditegaskan dalam Al-Qur’an yaitu “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.” (QS. Al-Hujurat: 6). Di dunia maya yang dipenuhi konten manipulatif, tabayyun digital menjadi keniscayaan. Netizen dituntut bukan hanya untuk melek teknologi, tetapi juga melek moral.

 

(Sumber Foto: Depositphotos)

Krisis Kebenaran dan Kehormatan

Deepfake telah melahirkan apa yang oleh para filsuf disebut krisis kebenaran. Dalam dunia yang diciptakan oleh algoritma, sesuatu yang palsu bisa tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Video hasil rekayasa bisa viral dan dipercaya jutaan orang, sementara fakta yang sebenarnya justru tenggelam di kolom komentar.

Islam memberi peringatan tegas tentang bahaya kebohongan dan fitnah. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar.” (HR. Muslim).  Dampak deepfake tidak hanya pada reputasi seseorang, tapi juga pada struktur sosial dan keagamaan. Bayangkan jika muncul video ceramah “tokoh agama terkenal” yang ternyata hasil rekayasa, menyampaikan fatwa palsu atau ajaran menyesatkan. Netizen bisa salah arah dan otoritas agama menjadi kabur.

Krisis ini bukan hanya soal teknologi, melainkan soal iman dan tanggung jawab moral. AI tidak memiliki hati nurani, ia tidak tahu dosa dan pahala. Karena itu, manusialah yang harus menjadi pengendali etika di balik mesin.

Kepanikan Moral di Dunia Maya

Keresahan netizen terhadap deepfake bisa dibaca melalui teori ketakutan moral (moral panic) yang dikembangkan oleh sosiolog Inggris Stanley Cohen. Dalam teori ini, masyarakat sering bereaksi berlebihan terhadap fenomena baru yang dianggap mengancam nilai dan tatanan sosial.  Deepfake kerap dipandang sebagai “fitnah akhir zaman”, simbol dari datangnya era kebohongan massal.

Banyak unggahan di media sosial yang menafsirkan teknologi ini sebagai bagian dari skenario kiamat. Dalam bahasa agama, ini disebut al-fitnah al-kubra, ujian besar yang menguji iman dan kesabaran. Namun, teori ketakutan moral membantu kita memahami bahwa kepanikan ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar takut terhadap teknologi. Masyarakat sedang gelisah karena merasa kehilangan kendali atas kebenaran. Di era ketika semua orang bisa menjadi “pencipta realitas”, batas antara benar dan salah menjadi kabur.

Keresahan ini bukan hal yang harus diolok, melainkan sinyal bahwa masyarakat masih memiliki kepekaan moral. Dalam konteks Islam, reaksi semacam ini bisa dipahami sebagai bentuk kecemburuan moral terhadap kebenaran yang sedang terancam.

Etika Islam di Era AI

Bagaimana seharusnya umat Islam merespons fenomena ini? Ada tiga pendekatan yang bisa digunakan. Pertama, pendekatan etika, dimana Islam mengajarkan prinsip tanggung jawab (mas’uliyyah) dalam setiap tindakan. Pengembang teknologi wajib memastikan algoritma yang mereka ciptakan tidak digunakan untuk merusak kehormatan orang lain. Kedua,  pendekatan literasi digital, dimana masyarakat perlu dibekali kemampuan tabayyun digital untuk dapat mengecek sumber, memverifikasi konten dan menahan diri dari menyebarkan hal-hal yang belum pasti. Ketiga, pendekatan kebijakan dan dakwah, dimana ulama dan pemerintah perlu berkolaborasi dalam membangun pedoman etika penggunaan AI yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, konsep maqāṣid al-syarī‘ah bisa menjadi rujukan penting untuk menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan manusia.

Antara Inovasi dan Amanah

Islam pada dasarnya tidak anti-teknologi. Sejarah mencatat umat Islam pernah memimpin dunia dalam bidang ilmu pengetahuan, astronomi, dan kedokteran. Namun, Islam selalu menempatkan inovasi di bawah payung amanah moral. AI dan deepfake hanyalah alat. Sedang yang menentukan baik atau buruknya tetaplah manusia. Jika digunakan dengan tanggung jawab, teknologi ini bisa membantu dakwah, pendidikan, bahkan memperkuat ukhuwah. Tapi jika dipakai untuk kebohongan dan manipulasi, maka ia menjadi sarana kemunafikan digital.

Di tengah derasnya arus informasi, umat Islam diingatkan agar tetap berpijak pada prinsip kebenaran. Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah kebenaran walau terasa pahit.” Dalam konteks digital, kebenaran sering kalah cepat dari sensasi. Namun, justru di situlah keimanan diuji, apakah kita akan menjadi penikmat kebohongan atau penjaga kebenaran.

Menjaga Akal dan Hati di Dunia Tiruan

Pada akhirnya, keresahan netizen terhadap AI dan deepfake bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran. Kesadaran bahwa di balik layar canggih teknologi, ada pertaruhan besar antara akal, iman, dan etika. Teori etika teknologi mengingatkan kita agar tidak menyerahkan kemanusiaan kepada mesin. Teori ketakutan moral membantu kita memahami bahwa kepanikan adalah sinyal perlunya pendidikan moral yang lebih kuat.

Islam, dengan ajaran amanah, tabayyun, dan maslahah, menawarkan panduan etis yang relevan untuk zaman ini. Tugas kita bukan menolak masa depan, tetapi mendidik masa depan agar tetap manusiawi. Karena di era ketika kebenaran bisa dipalsukan maka yang paling berharga bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan keteguhan hati untuk tetap jujur.