Komunikasi dengan Sinyal Illahi di Bulan Suci

 Oleh: Arryfa Bilqist

*Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Seringkali manusia merasa bahwa hidup ini terlalu mandiri, sehingga kita beranggapan akan sulit untuk mencari pendengar atau mencari sebuah tempat bagi suara hati kita. Pada bulan suci ini bukan hanya sekedar perintah puasa yang dapat kita lakukan, akan tetapi terdapat sinyal Illahi yang mudah kita gapai agar terkoneksi isi hati kita. Yaitu, dengan sebuah ketenangan dalam sujud, rasa haru saat berbagi, rasa syukur ketika berbuka dan sahur, rasa kesabaran ketika menghadapi ujian dan rasa saling memaafkan. Hal ini merupakan kesempatan kita untuk memperbaiki “antena” batin agar bisa lebih peka dalam menangkap sinyal Illahi yang seringkali kita abaikan karena kesibukan duniawi. Sehingga, keberkahan yang didapatkan pada bulan suci, perlahan bisa membersihkan atau menghindari dari amarah, iri hati, dan kesombongan. 

Sumber:idn.freepik.com

Tanpa disadari, pentingnya bulan suci hadir di tengah kesibukan duniawi adalah sebagai momen digital detox bagi jiwa serta peluang besar agar kita bisa memperbaiki antena spiritual yang mungkin sudah mulai hilang arah. Menangkapnya tidak memerlukan perangkat yang canggih, ia hanya membutuhkan satu hal yaitu keheningan. Dimana pada saat kita berpuasa, suara-suara perut dan ego berusaha kita redam agar suara hati bisa lebih terdengar begitu jelas. Sinyal ini tidak selalu berjalan dengan mulus, ada saatnya komunikasi dua arah ini merasa terganggu oleh hambatan yang kita perbuat, seperti marah, bergosip, pamer, dll, yang mengakibatkan “gangguan sinyal”. Sehingga, pesan-pesan kebaikan dari Allah SWT sulit untuk meresap ke dalam hati. Kita perlu melatih untuk menjadi teknisi mandiri, yaitu dengan  belajar membuang aplikasi-aplikasi mental tidak berguna dan memperbarui sistem operasi sabar agar lebih tangguh lagi menghadapi bug kehidupan.

Pada akhirnya, menjaga koneksi ini adalah tentang konsistensi. Jika kita bisa menjaga koneksi tidak hanya pada ibadah yang wajib, maka kedamaian yang kita cari tidak akan pernah putus. Begitu indahnya komunikasi dengan sinyal Illahi ini, yang sifatnya tanpa batas. Tidak ada istilah “luar jangkauan” selama kita menjaga koneksi tersebut. Ketika kita mampu menjaga koneksi ini selama sebulan penuh, maka setelah bulan suci berakhir, kita tidak hanya membawa pahala, tetapi juga membawa pangkat jiwa baru yang lebih peka, tenang, dan selalu terkoneksi pada sumber kedamaian sejati dalam setiap langkah kita. Seperti yang dijelaskan pada dalil Al-Qur’an di bawah ini :

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Artinya : “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Sumber:idn.freepik.com

Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan Sang Pencipta. Layaknya sebuah perangkat komunikasi, jiwa yang tertutup oleh hambatan berupa kesibukan duniawi, ego, dan penyakit hati yang membuat sinyal Illahi sulit tertangkap koneksi. Melalui ibadah puasa, kita bisa meredam kebisingan tersebut dan membersihkan “antena” batin agar lebih peka terhadap sinyal kebaikan dan ketenangan dari langit.

Kunci utamanya, terletak pada keikhllasan dan keheningan. Sinyal Illahi membutuhkan hati yang tulus dan kerendahan hati untuk meluruskan niat dan membuang sifat-sifat buruk. Hasil yang kita harapkan akan menjadi transformasi diri menjadi pribadi yang lebih tenang dan akan selalu terkoneksi dengan sinyal Illahi. Ingatlah bahwa sinyal Illahi tidak pernah melemah, bahkan kita yang seringkali terlalu sibuk dengan kebisingan dunia hinggal lupa mencari frekuensi yang tepat.

*Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam