Oleh: Anggun Tyas Sayekti
*Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam
Ramadan selalu menghadirkan perubahan suasana yang terasa begitu kuat dalam kehidupan umat Islam. Intensitas ibadah meningkat, aktivitas keagamaan bertambah, dan kesadaran spiritual cenderung lebih tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. Namun di balik nuansa religius tersebut, ada satu fenomena modern yang juga ikut meningkat secara signifikan, yaitu konsumsi gadget.
Di era digital saat ini, pengalaman menjalani Ramadan tidak lagi hanya berlangsung di ruang fisik seperti masjid atau majelis taklim. Ia juga hadir di ruang virtual melalui layar ponsel yang hampir tidak pernah lepas dari genggaman. Sejak waktu sahur hingga menjelang tidur, banyak orang mengakses berbagai platform untuk mencari konten keislaman.

Platform seperti YouTube menyediakan ribuan kajian Ramadan yang dapat ditonton ulang kapan saja. Sementara itu, Instagram dan TikTok dipenuhi dengan potongan ceramah singkat, kutipan ayat, hingga video motivasi Islami berdurasi pendek. Konten dakwah kini hadir dengan format yang lebih visual, ringkas, dan mudah dibagikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dakwah telah mengalami transformasi besar. Jika dahulu seseorang harus datang langsung ke masjid untuk mengikuti kajian, kini cukup membuka aplikasi dan memilih topik yang diinginkan. Akses yang mudah ini tentu menjadi peluang besar bagi penyebaran pesan Islam, terutama bagi generasi muda yang sangat akrab dengan media digital.
Ramadan pun seakan menjadi “musim” konten religius di media sosial. Algoritma platform akan merekomendasikan lebih banyak video Islami ketika pengguna mulai berinteraksi dengan tema tersebut. Akibatnya, linimasa terasa lebih religius dibanding biasanya.
Di satu sisi, kondisi ini membawa dampak positif karena masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperkaya pengetahuan agama. Kajian dapat diakses secara fleksibel tanpa terbatas waktu dan tempat. Bahkan, aktivitas menunggu waktu berbuka puasa kini sering diisi dengan menonton ceramah atau mendengarkan podcast Islami.
Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menimbulkan tantangan. Konsumsi konten yang terlalu cepat dan berulang bisa berubah menjadi sekadar kebiasaan scroll tanpa refleksi. Seseorang dapat menonton banyak video ceramah, tetapi belum tentu memahami dan mengamalkan isinya.

Perlu disadari bahwa paparan pesan tidak selalu berarti perubahan perilaku. Religiusitas tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang mengakses konten dakwah, melainkan dari seberapa dalam pesan tersebut memengaruhi sikap dan tindakan. Ramadan seharusnya menjadi momentum transformasi, bukan hanya peningkatan aktivitas digital bertema Islami.
Selain itu, format konten yang sangat singkat juga berpotensi menyederhanakan pesan agama yang sebenarnya kompleks. Demi menyesuaikan dengan karakter audiens media sosial, ceramah dipotong menjadi satu atau dua menit. Hal ini memang efektif secara visual, tetapi bisa mengurangi kedalaman makna jika tidak disertai penjelasan yang utuh.
Karakter algoritma media sosial juga dapat menciptakan ruang gema, di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan keagamaan tertentu. Tanpa disadari, perspektif menjadi terbatas karena sistem hanya menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi sebelumnya. Padahal, tradisi keilmuan Islam kaya akan keragaman pandangan dan diskusi.
Oleh karena itu, konsumsi gadget di bulan Ramadan perlu disertai kesadaran dan pengendalian diri. Gadget seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi distraksi yang mengurangi kekhusyukan ibadah. Mengatur waktu penggunaan, memilih sumber yang kredibel, serta meluangkan waktu untuk merenungkan isi pesan adalah langkah yang dapat dilakukan.
Pada akhirnya, layar ponsel hanyalah perantara. Transformasi spiritual tetap terjadi dalam hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Ramadan bukan hanya tentang meningkatnya traffic konten religius di media sosial, tetapi tentang bagaimana pesan-pesan tersebut benar-benar membentuk karakter dan memperkuat iman dalam kehidupan sehari-hari.
*Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam UIN SAIZU 2023