PURWOKERTO – Pernahkah Anda mendengar istilah “investasi” untuk tiket masuk pengajian? Di kota-kota besar Indonesia, cara berdakwah kini mulai berubah wajah. Bukan lagi sekadar duduk bersila di masjid, banyak perempuan Muslim kelas menengah kini lebih memilih mengikuti pelatihan spiritual berbayar yang diadakan di hotel-hotel berbintang.
Sebuah studi terbaru berjudul Packaging religion through training: Da’wah commodification among middle-class muslim women in Indonesia yang ditulis oleh dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Uus Uswatusolihah, dkk. mengungkapkan fenomena yang disebut sebagai Komodifikasi Dakwah. Fenomena ini terlihat jelas dalam program-program populer seperti Spiritual Motherhood dan Miracle Women yang menargetkan ibu rumah tangga serta perempuan karier yang berpendidikan tinggi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dakwah dikemas layaknya pelatihan manajemen atau pengembangan diri. Alih-alih di pesantren, kegiatan ini justru sering digelar di tempat bergengsi seperti Menara 165 Jakarta atau hotel-hotel seperti Ibis, Harris, dan Santika di berbagai daerah.
“Tempat yang mewah dan nyaman sengaja dipilih untuk memberikan suasana eksklusif bagi peserta yang memang berasal dari kalangan ekonomi mapan,” tulis Uus.
Di sana, para peserta tidak memanggil pengajarnya dengan sebutan Ustadzah, melainkan sapaan akrab seperti “Bunda” atau “Coach”. Yang menarik adalah penyelenggara tidak menggunakan istilah “harga tiket”, melainkan “investasi”. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit. Untuk pelatihan online, biayanya berkisar antara Rp450.000 hingga Rp2.000.000. Sementara untuk pelatihan tatap muka langsung (offline), peserta bisa merogoh kocek hingga Rp4.000.000. Biaya ini sudah mencakup materi pelatihan, makan siang di hotel, hingga akses ke komunitas alumni.
Untuk menarik minat, penyelenggara juga menggunakan strategi pemasaran modern, termasuk testimoni dari selebriti ternama seperti Irish Bella. Dengan gaya ini, agama tidak lagi hanya dipandang sebagai ibadah, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial bagi kaum urban.
Materi yang disampaikan pun sangat relevan dengan masalah sehari-hari perempuan kota, seperti cara mendidik anak (parenting), menyembuhkan luka batin (healing), hingga mengelola emosi. Semuanya dibalut dengan kutipan ayat suci dan kisah Nabi, namun disampaikan dengan teknologi modern seperti video musik yang menyentuh perasaan dan lampu ruangan yang diatur dramatis.
Meski dianggap sebagai cara kreatif untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat modern, para peneliti mengingatkan adanya risiko di balik tren ini.
“Ada kekhawatiran bahwa nilai sakral agama perlahan-lahan bisa luntur karena lebih menonjolkan sisi bisnis dan keuntungan semata”, tegasnya.
Namun bagi para peserta, kenyamanan dan materi yang “nyambung” dengan kehidupan mereka membuat biaya jutaan rupiah dianggap sepadan. Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana agama terus beradaptasi dengan budaya konsumsi dan kebutuhan masyarakat saat ini.
Penelitian ini diterbitkan oleh Jurnal Ilmu Dakwah Fakultas Dakwah UIN Walisongo Semarang Vol. 45 No. 1 Tahun 2025. Selengkapnya bisa klik tautan berikut:
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/dakwah/article/view/26965
Sumber Gambar: Gemini AI