Setiap Frame Punya Cerita: Seminar Nasional Commfest 2026 UIN Saizu Bekali Mahasiswa Etika Perfilman

PURWOKERTO — Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) menggelar Seminar Nasional Perfilman di Auditorium UIN Saizu pada Sabtu (10/10/2026). Acara ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan Communication Festival (Commfest) 2026.

Seminar dengan tema “Culture in Cinema: Every Frame Tells Our Story” ini digelar guna memberikan edukasi dan wawasan bagi mahasiswa dalam dunia perfilman, sekaligus menandai penguatan kerja sama antara UIN Saizu dan LSF RI melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor 3  Prof. Dr. Sunhaji, M.Ag., Wakil Dekan 3 Fakultas Dakwah Dr. Nawawi, M.Hum., Ketua Prodi KPI Dr. Uus Uswatusolihah, MA., serta narasumber dari Lembaga Sensor Film RI (LSFRI) Dr. Naswardi dan Tim Produksi Film Tamu Maghrib.

Wakil Ketua HMPS KPI, Septi Rahmadani, menyebut kerja sama ini membuka peluang magang bagi mahasiswa KPI dan Fakultas Dakwah. Kehadiran LSF RI dipandang krusial untuk memberikan pemahaman mengenai Etika Penyiaran dan Sensor Mandiri.

Sementara itu Warek 3 mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh HMPS KPI. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan wawasan dalam dunia perfilman.

“Semoga melalui kegiatan ini akan lahir sineas-sineas perfilman dari UIN saizu,” harapnya.

Ketua LSF RI Dr. Naswardi membeberkan bahwa indeks literasi penonton di Indonesia saat ini masih berada di angka 46 persen berdasarkan data survei LSF. Angka ini menjadi tantangan tersendiri bagi LSF RI dalam mengedukasi masyarakat agar memperhatikan klasifikasi usia sebelum menyaksikan sebuah tayangan. Naswardi menyayangkan masih ditemukannya fenomena orang tua yang membawa anak-anak menonton film berkategori dewasa di bioskop.

“Intinya bagaimana masyarakat kita kalau nonton itu memperhatikan kaidah klasifikasi usia tadi,” tegas Naswardi.

Ia juga mengingatkan para mahasiswa dan kreator konten bahwa tanggung jawab klasifikasi usia tidak hanya berada di tangan penonton, melainkan harus dirancang sejak tahap awal produksi. “Pertama, sebelum bikin konten rencanakan dulu, ini kontennya untuk penonton siapa,” ujarnya. Perencanaan sasaran audiens harus melingkupi penetapan tema, topik adegan, dialog, hingga teks terjemahan agar sesuai saat didistribusikan. “Jangan sampai ini konten yang dibikin dewasa tapi pengennya ditonton oleh semua orang, semua generasi, semua usia,” lanjutnya.

Selain edukasi literasi, LSF RI turut memaparkan capaian kinerjanya pada tahun 2025 yang telah melakukan penyensoran terhadap 41.104 judul film dan iklan, serta terus menggalakkan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di berbagai kalangan.

Sesi pemaparan kedua dilanjutkan oleh jajaran tim produksi Film Tamu Maghrib. Dalam pemaparannya, tim produksi Film Tamu Maghrib membedah alasan di balik maraknya film bergenre horor-budaya di Indonesia. Menurut mereka, kekayaan tradisi dan mitos masyarakat menjadi bahan baku cerita yang tak pernah habis untuk digali ke dalam medium film.

“Indonesia itu sangat kaya dengan folklor, yang terutama berkaitan dengan tahayul,” ungkap produser Film tamu Maghrib Anggit Danurendra.

Tak hanya itu, Anggit juga mendeskripsikan dinamika serta tantangan nyata bekerja di industri perfilman yang menuntut pembaruan ide secara berkesinambungan. Pekerjaan di dunia film dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena setiap judul membawa tantangan dan cerita yang berbeda.

“Karna beda dengan pekerjaan kantoran ya, mungkin kita [sebagai] arsip. Boring kali ya, setiap hari itu aja datanya. Kalau film itu enggak, pasti berubah terus. Dari satu karya ke karya dua itu pasti berubah,” tambahnya di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.

Acara seminar yang berlangsung meriah dan hangat ini ditutup dengan pemutaran First Look Teaser film Tamu Maghrib.